Penggunaan AI dalam Produk Jurnalistik untuk Hasilkan Jurnalisme yang Berkualitas, Ini Caranya

Foto : M Jazuli (kiri) saat jadi narsum dalam acara Lokakarya Media 2025. (ist)

wartaapa-Beberapa tahun terakhir ini artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kerap kali digunakan masyarakat untuk membantu kinerja, tak terkecuali para jurnalis di dalam industri media. Pasalnya, AI membawa banyak manfaat dan peluang, seperti untuk menganalisis data, kecepatan dalam bekerja dan tentu penggunaannya yang lebih efisien.

“AI jelas membawa peluang karena lebih efisien, cepat dalam menganalisis data. Namun, di salah satu sisi juga menimbulkan tantangan (etika, keaslian, hoaks, transparansi). Nah, di sini media berperan penting sebagai penghubung antara informasi dan publik,’’ ungkap Anggota Dewan Pers Muhammad Jazuli periode 2025-2028 saat jadi narasumber dalam acara Lokakarya Media 2025 dengan Tema Optimalisasi Peran Media dalam Mendorong Capaian Target Hulu Migas Nasional di Semarang, Selasa – Rabu (7-8/10).

Lebih jauh Jazuli menjelaskan, AI hanya sebagai alat bantu dan bukan pengganti wartawan. Oleh sebab itu, harus ada verifikasi manual oleh redaksi. Tranparansi harus ditunjukkan agar publik tahu jika muatan karya jurnalistik tersebut menggunakan AI.

“Hak cipta dan data pribadi seseorang harus dilindungi serta plagiarisme dan disinformasi haruslah dihindari,’’ terangnya.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh SKK Migas-KKKS Jabanusa itu, Jazuli juga meminta kepada wartawan untuk lebih teliti, transparan, akuntabilitas, netral, adil dan menghormati hak cipta. “Hasil AI harus diperiksa ulang. Sehingga, lebih akurat dan terverifikasi, tanggung jawab pada jurnalis dan redaksi serta yang lebih penting hindari bias algoritma,’’ bebernya di hadapan puluhan wartawan yang hadir.

Ia menyarankan kepada jurnalis dalam menggunakan AI untuk riset data dan analisis tren. Menyusun draft awal berita, bukan versi final. “Memakai AI untuk subtitle otomatis, visualisasi data, fakta pendukung. “Tetapi, tetap ada editor manusia yang mengkurasi,’’ tukasnya.

Jazuli menegaskan, kepercayaan publik adalah modal utama media. Sebab, tanpa kepercayaan, media kehilangan audiens, pengaruh, dan legitimasi. “Disrupsi digital, hoaks, mis/disinformasi, dan tekanan politik/ekonomi merupakan tantangan kita ke depan,’’ pungkasnya. (set)

 

 

 

 

 

 

Pos terkait