Spirit Islam di Balik Kemerdekaan RI (2)

Oleh: Akhmad Zaini

wartaapa.com-Di bagian kedua ini, saya ingin mengingatkan agar umat Islam menyadari bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia. Ketika kita mendengar ada istilah abad kegelapan, yakni pada abad pertengahan (5 -15 M), itu pada dasarnya kegelapan bagi sejarah peradaban Eropa. Cuma repotnya, di sekolah-sekolah, guru-guru mengajarkan secara “datar”. Sehingga persepsi yang terbangun bahwa kegelapan itu adalah kegelapan semua peradaban dunia. Termasuk peradaban Islam.

Sejarah yang sering kita terima dari bangku sekolah dulu, menurut saya, memang sering bias Barat. Ini karena, sejarah yang kita ajarkan ke anak-anak di negeri ini, adalah sejarah perspektif Barat. Sehingga, ketika abad pertengahan dunia Barat mengalami kemerosotan intelektual akibat dominasi gereja yang absolut atas dunia intelektual, maka digambarkan bahwa itu mewakili semua peradaban dunia.

Padahal, (sekali lagi) tidak. Kegelapan itu hanya melanda bangsa Barat. Dunia Islam, sebaliknya. Saat itu, justru sedang mengalami puncak kejayaan peradaban. Fakta sejarah ini, menurut saya, perlu dipopulerkan. Para pengajar sejarah peradaban dunia –khususnya yang muslim—harus mempelajarinya dengan lebih jeli. Karena kalau tidak, sejarah yang masuk ke otak-otak anak-anak muslim adalah sejarah yang bias Barat. Dan itu, jelas sangat merugikan. Sikap rendah diri akan melanda generasi muslim. Sebaliknya, bila mereka menyadari bahwa Islam juga pernah memimpin peradaban dunia, maka sikap percaya diri itu akan muncul. Mereka pun terdorong untuk mewujudkan kembali kejayaan itu.

Ketika Umat Islam menguasai Andalusia (sekarang wilayah Spanyol, Portugal dan Perancis) pada 711 M-1492 M, adalah era di mana peradaban dunia di tangan Islam. Saat itu, dunia intelektual Islam begitu maju. Sementara, dunia Barat mengalami kemerosotan. Bangkitnya intelektual Barat, justru setelah mereka banyak belajar dari intelektual Islam. Dan, Andalusia-lah pintu masuknya. Karena di Andalusia ini, pemerintahan Islam membuka perpustakaannya lebar-lebar. Orang barat –tanpa harus memeluk Islam-diperkenankan “nebeng” belajar di sana.

Sayang, keemasan peradaban Islam itu, runtuh pada abad 14 atau 15 M. Konflik rebutan kekuasaan melanda para pemimpin Islam. Mereka semakin lemah dan pelan-pelan terperosok ke jurang kemunduran peradaban. Sementara di pihak lain, bangsa Barat yang semula “nebeng belajar” di Andalusia semakin cerdas. Dunia intelektual mereka semakin jauh meninggalkan umat Islam. Puncaknya, pada pertengahan abad 18 M, bangsa Barat memasuki era revolusi Industri. Sejak itu, perabadan Barat terus melesat hingga saat ini. Sementara peradaban Islam, semakin jauh tertinggal.

Bersamaan dengan merosotnya peradaban Islam, kolonialisasi atau penjajahan terjadi. Beberapa negara Islam, mulai dijajah bangsa Barat. Kawasan nusantara yang sejak abad 9 M sudah terjamah oleh kekuasaan Islam juga tidak luput dari “proyek” kolonialisasi itu. Abad 16 M, bangsa Barat (Portugis) telah mendarat di Malaka. Sedang bangsa Belanda mulai menginjakkan kaki di kawasan Nusantara pada akhir abad 16 M.

Ketika Nusantara dijamah oleh Belanda, kawasan ini sudah merupakan kawasan hijau (muslim). Kesultanan-kesultanan Islam telah silih berganti memerintah di sini. Dari Kesultanan Perlak di Aceh (840 – 1292 M), Kesultanan Ternate (1257 -1950 M), Samudra Pasai (1267-1521 M), Pagaruyung (1347-1825 M), Malaka (1405-1511 M), Cirebon (1430-1677 M) dan Demak (1475-1548 M).

Jika sudah berbentuk negara (kerajaan), maka bisa disimpulkan bahwa penduduk di kawasan ini sudah mayoritas muslim. Dan memang, kawasan Islam, menjadi salah satu target dari “proyek” kolonialisasi Barat pada waktu itu. Dendam Perang Salib menjadi api dari kolonialisasi tersebut. Sehingga ketika menjajah bangsa Barat selalu merujuk kepada 3 G (Gold, Glory dan Gospel) seperti saya singgung di bagian pertama tulisan ini.

Selain kekayaan alamnya dikeruk, target pelenyapan Islam dari kawasan nusantara juga menjadi target kaum imperialis Barat. Belanda dengan politik asosiasinya, menargetkan bahwa penduduk di tanah Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia saat itu), seperti bangsa Barat. Baik dari sisi sosial budaya, hingga agama. Namun, upaya itu gagal. Karena penduduk Hindia Belanda tetap kuat dengan ke-Islaman-nya. Dan, kekuatan Islam inilah yang justru menjadi energi (spirit) untuk mengusir Belanda dari tanah Hindia Belanda.

Yang menarik dicermati, meski diacak-acak selama ratusan tahun, mengapa keislamanan penduduk di nusantara masih kokoh? Menurut saya, salah satu kuncinya adalah metode dakwah yang dipakai oleh para pendakwah Islam di Indonesia. Mereka masuk ke nusantara bukan dengan pendekatan politik atau kekuasaan. Namun, lebih melalui pendekatan budaya atau kultural.

Dakwah kultural ini, memungkinkan terjadinya internalisasi Islam yang sangat kuat melalui perkawinan budaya. Memang, dalam konteks tertentu, keislaman di nusantara “dituduh” sinkretis. Tetapi, sebagian pendakwah dan juga umat Islam di Nusantara tetap menyadari bahwa itu adalah proses dakwah. Sehingga, proses meninggalkan budaya-budaya lokal yang tidak Islami itu terus berjalan. Sedang budaya lokal yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, masih dipelihara dan diamalkan. Kaidah mempertahankan yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik dijadikan pedoman dalam menyikapi perubahan budaya itu.

Kondisi seperti itu, tidak terjadi di beberapa kawasan yang dikuasai umat Islam. Andalusia misalnya. Di kawasan yang sekarang meliputi Spanyol, Portugis dan Perancis itu, Islam masuk melalui pendekatan politik atau kekuasaan. Yakni, ketika pasukan Dinasti Umayyah yang dipimpin Tariq bin Ziyad pada 711 M menguasai daerah itu. Setelah ditaklukkan, kawasan tersebut diperintah oleh umat Islam. Namun, meski 700 tahun diperintah oleh kesultanan Islam, tetapi masih ada gap budaya dan agama antara umat Islam yang berkuasa dengan penduduk lokal. Penduduk lokal tetap mempertahankan budaya dan agama lamanya (kristen). Tidak terjadi perkawinan budaya seperti di Indonesia.

Gap budaya dan agama itu, di kemudian hari menjadi persoalan serius. Begitu kesultanan Islam lemah karena konflik internal, masyarakat lokal bangkit melawan. Dan, sejarah kelam itu akhirnya terjadi. Andalusia yang ratusan tahun menjadi bagian dari Islam, berubah total 180 derajat. Begitu kesultanan Islam di Andalusia tumbang, maka umat Islam di kawasan itu dihadapkan kepada pilihan yang sangat pahit; pertama, meninggalkan bumi Andalusia, tetap di situ tetapi pindah agama, atau tidak memilih keduanya namun mati dibunuh. Sejarah mencacat, di zaman itu, bumi Andalusia menjadi merah karena tersiram darah umat Islam yang mati dibunuh.

Islam di Nusantara sangat jauh berbeda. Dengan pendekatan kultural, Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan penduduk lokal. Sehingga, umat Islam di Nusantara adalah orang Nusantara yang Islam. Bukan orang Islam yang kebetulan hidup di tanah Nusantara. Kondisi ini, menjadikan Islam di Nusantara begitu kokoh. Meski kerajaan-kerajaan Islam Nusantara mampu diporak-porandakan Belanda, namun Islam sebagai agama yang dipeluk penduduk Nusantara tidak mudah dihancurkan. Bahkan setelah melakukan kajian serius dan akhirnya Belanda menerapkan pendekatan kultural dalam bentuk politik asosiasi, upaya mencabut Islam dari Nusantara juga gagal total.

Islam di Nusantara berkembang di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya di balik tembok Istana. Karena itu, ketika tembok Istana jebol, maka Islam tidak terkena dampak. Islam masih terhunjam dalam di tengah-tengah masyarakat. Budaya-budaya yang  bernilai Islam menjadi tali yang kokoh yang mampu mengingat keimanan penduduk Nusantara. Islam menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Meski secara syariat belum sempurna, tetapi mereka tetap ingin disebut muslim.

Dalam konteks Indonesia merdeka, terbebas dari cengkeraman Barat, kondisi seperti itu menjadi faktor penentu. Islam sangat sulit didongkel dari bumi Nusantara. Sehingga bagi penjajah, Islam tetap menjadi ancaman bagi keberlangsungan kolonialisme Barat di Indonesia. Begitu kekuatan itu sudah terhimpun dengan baik, maka akhirnya menjadi energi (spirit) untuk melakukan perlawanan. Resolusi Jihad yang berbasis agama yang dikeluarkan Hadratus Syaech Hasyim Asy’ari, terbukti menjadi motor bermesin turbo di balik pertempuran hebat di Surabaya.

Sejarah mencatat, pertempuran di Surabaya ini adalah titik sejarah terpenting dari kemerdekaan negara Republik Indonesia. Di mana, masyarakat dengan spirit agama (Islam) mampu menghalau kedatangan tentara sekutu yang akan kembali mengambil alih kekuasaan di Indonesia. “Allahu Akbar” yang dikumandangkan Bung Tomo, menjadi sumber kekuatan atau “jimat” yang menjadi penyulut api perlawanan. Api itu berkobar begitu besar, sehingga tidak bisa dipadamkan. Peralatan canggih sekutu menjadi mandul berhadapan dengan kobaran api ini.

Allahu Akbar. Merdeka!!!

*). Akhmad Zaini, mantan Jurnalis Jawa Pos, kini menjadi khadam pendidikan di IAINU Tuban

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *